Tersenyum

Tersenyum

Selasa, 21 April 2015

Penjelasan Konsep Dasar Psikoanalisis

A.      Konsep dasar teori psikoanalitik
1.       Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik , struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu id merupakan komponen biologis, ego merupakan komponen psikologis dan superego merupakan komponen sosial. Berikut penjelasan mengenai struktur kepribadian.
a.       Id
Merupakan tempatnya naluri-naluri. Kepribadian seseorang  ketika dilahirkan hanya memiliki id.  Id tidak bisa menoleransi tegangan dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas kesenangan yang diarahkan pada pengurangan ketegangan, penghindaran kesakitan, dan perolehan kesenangan, id tidak bersifat logis, amoral, dan di rorong oleh satu kepentingan. Id hanya menginginkan atau bertindak , tidak berfikir dan bersifat tak sadar.
b.      Ego
Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego memiliki peran dalam kepribadian seperti memerintahkan, mengendalikan, dan mengatur. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasaan kebutuhan-kebutuhan. Ego merupakan tempat bersemayamnya intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari id.
c.       Superego
Superego merupakan cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego merupakan kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, salah atau benar. Superego ini merepresentasikan hal-hal yang riel dan mendorong bukan pada kesenangan melainkan pada kesempurnaan. Superego berfungsi menghambat impuls-impuls id.
2.       Kesadaran dan ketidaksadaran
Kunci untuk memahami tingkah laku dan masalah-masalah kepribadian dalam pendekatan psikoanalisis adalah kesadaran dan ketidaksadaran. Bagi Freud kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Ketidaksadaran menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan, dan bahan-bahan yang direpresi. Menurut Freud sebagian besar fungsi psikologis terletak di luar kawasan kesadaran. Sasaran dari terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tak sadar menjadi disadari, sebab hanya ketika menyadari motif-motifnyalah individu bisa melaksanakan pilihan atau berpikir dan bertindak.
3.       Mekanisme pertahanan ego
Mekanisme pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanisme-mekanisme pertahanan yang digunakan oleh individu bergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya. Berikut macam-macam mekanisme pertahanan ego.
a.       Penyangkalan merupakan pertahanan melawan kecemasan dengan menutup mata terhadap keberadaan yang mengancam.
b.      Proyeksi merupakan memindahkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain.
c.       Fiksasi merupakan terpakunya pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena mengambil langkah ke tahap selanjutnya bisa menimbulkan kecemasan.
d.      Regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar.
e.      Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang baik guna menghindarkan ego dari cedera atau memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan.
f.        Sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara social lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
g.       Displacement adalah mengarahkan energy kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak bisa dijangkau.
h.      Represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan kecemasan.
i.         Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar.
4.       Perkembangan psikoseksual
Menurut pendekatan psikoanalitik perkembangan psikoseksual terdiri dari lima tahap yaitu:
a.       Fase oral, dari lahie sampai akhir usia satu tahun seorang bayi menjalani fase oral. Mulut dan bibir merupakan zona erogen yang peka selama fase oral dan bayi mengalami kenikmatan erotic dari tindakannya menghisap.
b.      Fase anal, dalam fase ini memiliki tugas-tugas yang harus diselesaikan yaitu belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi dan otonomi, serta belajar bagaimana mengakui dan menangani perasaan-perasaan yang negative. Dalam tahap ini dimulai pada usia satu sampai tiga tahun. Dalam tahap ini anak diajarkan toilet training.
c.       Fase falik, dalam fase ini kesanggupan dalam berbagai hal seperti kesanggupan untuk berjalan, berbicara, berpikir, dan mengendalikan otot-otot berkembang pesat. Pada tahap ini dimulai dari usia tiga tahun sampai lima tahun. Pada fase ini, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian dipusatkan pada alat-alat kelamin.
d.      Fase laten, dimana dalam fase ini adalah fasenya istirahat tidak terjadi apa-apa atau perubahan.
e.      Fase gential, dalam fase ini berpusat pada genital seseorang.
B.      Unsur-unsur terapi
1.       Tujuan terapi
Tujuan terapi ini adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien.
2.       Fungsi dan peran terapis
Terapis membiarkan dirinya anonim serta hanya berbagai sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analisis. Terapis terlebih dahulu harus membangun hubungan kerja dengan klien kemudian perlu banyak mendengar dan menafsirkan. Salah satu fungsi utama dari terapis adalah mengajrkan arti proses-proses kepada klien sehingga klien mampu memperoleh pemahaman terhadap masalah-masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara untuk berubah.
3.       Munculnya permasalahan
Dalam pendekatan ini, biasanya munculnya masalah karena direpres terus sehingga menumpuk dalam ketidaksadaran. Semakin banyak yang direpres membuat seseorang merasa terganggu dalam hidupnya.
C.      Teknik-teknik terapi
Teknik dasar terapi psikoanalitik terdiri dari lima yaitu :
1.       Asosiasi bebas
Teknik ini meminta kepada klien agar membersihkan pikirannya dari pemikiran-pemikiran dan renungan-renungan sehari-hari dan sebisa mungkin mengatakan apa saja yang melintas dalam pikirannya tidak dibatasi ketika bercerita. Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalanman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatic dimasa lampau.
2.       Penafsiran
Penafsiran merupakan suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran ini menyebabkan pemahaman dan tidak terhalanginya bahan tak sadar pada pihak klien.
3.       Analisis mimpi
Freud memandang mimpi-mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari diungkapkan. Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi yaitu isi laten dan isi manifest. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarka, tersembunyi, simbolik dan tak sadar, sedangkan isi manifes merupakan trasnformasi dari isi laten dengan isi manifes lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Tugas terapis dalam hal ini adalah menyingkap makna-makana yang disamarkan dengan mempelajari symbol-simbol yang terdapat pada isi manifest mimpi.
4.       Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi adalah suatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang direpresi.
5.       Analisis dan penafsiran transferensi

Analisis transferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi-fiksasi dan deprivasi-deprivasi dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhdap kehidupannnya sekarang.

Subjek : 
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Reflika Aditama.
Person Centered Therapi (Rogers)

Tokoh yang mengungkapkan terapi client- centered adalah Carl Rogers. Ia mengembangkan terapi client- centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pendekatan client centered merupakan cabang khusus dari terapi humanistic yang menekankan bahwa pada tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya. Pendekatan ini, menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dank lien merupakan katalisator bagi perubahan. Menurut Palmer (2010) pendekatan ini, klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.

Menurut Rogers teori client centered adalah sebagai sekumpulan prinsip percoabaan yang berkaitan dengan perkemabngan proses terapi dan bukan sebagai dogma karena Rogers tidak mengungkapkan teori client centered sebagai suatu pendekatan terapi yang tetap dan tuntas. Pendekatan ini berfokus pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara mengahdapi kenyataan secara lebih penuh. Dalam pendekatan ini, klien sebagai orang yang paling mengetahui dirinya sendiri sehingga klien adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya. Client-centered menekankan dunia fenomenal klien. Menurut pendekatan client-centered, psikoterapi hanyalah salah satu contoh dari hubungan pribadi yang konstruktif. Klien mengalami pertumbuhan psikoterapeuitk di dalam dan melalui hubungannya dengan seseorang yang membantunya melakukan apa yang tidak bisa dilakukannya sendirian. 

Subjek:
Palmer, S. (2011). Konseling dan pskioterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Terapi Humanistik Eksestensial

Menurut Corey (2007) pendekatan eksistensial humanistic menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Banyak ahli psikologi yang yang berorientasi eksestensial  seperti Rogers (1961), May (1969), Frankl (1963), Maslow (1970), dll. Tujuan dari pendekatan psikoterapi ini adalah membantu individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan, dan bertanggung jawab untuk tindakan-tindakannya. Terapi ini berpijak pada manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab saling berkaitan. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi.  Landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi cirri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konseling dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam mengahadapi pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia. Pendekatan eksistensial ini tidak hanya mempelajari cara berpikir tentang eksistensi dan menerapkannya pada pendekatan lain secara terpisah. Keterlibatan terapis menjadi bermakna dalam cara yang sangat pribadi atau bagaimana cara untuk menjadi.
Menurut Palmer (2011) terapi eksistensial berakar pada filsafat eksistensial. Filsuf yang berfokus pada pemahaman eksistensi manusia bisa digambarkan sebagai eksistensial.  Berikut filsuf yang termasuk ke dalam filsuf eksistensial adalah Kierkegaard, Nietzsche yang merupakan filsuf kebebasan. Martin Heidegger (1889-1976) merupakan pendiri eksistensialisme yang berpengaruh besar terhadap konseling dan psikoterapi eksistensial.  Psikolog Rollo may (1909-1994) berperan membawa gagasan eksistensial ke Amerika dan psikiatris Irvin Yalom mengukuhkan keberadaan pendekatan eksistensial di Negara Amerika.



Sumber :
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Reflika Aditama
Palmer, S. (2011). Konseling dan pskioterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Terapi Psikoanalisis

Salah satu aliran dalam psikologi adalah aliran psikoanalisis. Menurut Corey (2007) Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi. Menurut sejarah, psikoanalisis merupakan aliran pertama dari tiga aliran utama psikologi yaitu behavioristik dan humanistik. Sigmund freud merupakan pencipta pendektan psikodinamika terhadap psikologi.  Freud mempunyai sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik mencakup kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada penderitaan manusia. Kedua, tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh factor-faktor tak sadar. Ketiga, perkembangan pada masa kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian dimasa dewasa. Keempat, teori ini menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan menggunakan defence mekanisme. Terakhir, pendekatan ini telah memberikan cara mencari keterangan dari ketidaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi. 
Selain Freud ada juga tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam pendekatan psikoanalisis yang biasa disebut dengan Neo-Freudian. Tokoh-tokoh tersebut seperti Jung, Adler, Rank, Horney, Fromm, Sullivan dan Erikson. Mereka mempersoalkan keterbatasan Freud dan konsepnya tentang sifat manusia yang deterministic. Meskipun membentuk reaksi melawan teori naluri dari psikoanalisis Freudian, mereka membangun konsep-konsep manusia dari landasan yang telah dibangun oleh Freud. Berikut salah dua konsep-konsep dari Neo-Freudian :
1.       Carl Jung
Menekankan peran maksud dalam perkembangan manusia. Jung memiliki pandangan yang optimis dan kreatif tentang manusia, menekankan tujuan aktualisasi diri. Masa kini tidak hanya ditentukan oleh masa lampau, tetapi juga oleh masa mendatang.  Konsep-konsep utama Carl Jung adalah ketidaksadaran personal, ketidaksadaran kolektif, pesona, animus dan anima, dua sikap (ekstraversi dan introversi).
2.       Alfred Adler

Manusia dimotivasi oleh dorongan-dorongan social. Pria dan wanita adalah makhluk social dimana masing-masing orang dalam berelasi dengan orang lain mengembangkan gaya hidup yang unik. Adler menekankan determinan-determinan social kepribadian bukan determinan seksual. Konsep-konsep utama Adler adalah inferioritas dasar dan kompensasi, usaha untuk mencapai superioritas, gaya hidup, dll.

Sumber : 
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Reflika Aditama



Selasa, 17 Maret 2015


Penjelasan Psikoterapi, Konseling dan Mental Illness

Dalam tulisan ini berisi mengenai perbedaan psikoterapi dan konseling, penjelasan terhadap mental illness dan bentuk-bentuk dari psikoterapi. Pertama saya akan menulis mengenai perbedaan psikoterapi dan konseling. Menurut Gladding (dalam Lesmana, 2005) konseling terkait dengan :
1. Keprihatinan pada kesejahteraan, pertumbuhan seseorang, karier dan juga patologi dari seseorang atau pribadi.
Dalam hal ini berkaitan dengan bidang-bidang yang melibatkan hubungan antarmanusia dengan dirinya sendiri. Contoh dalam situasi di sekolah yaitu melibatkan antara diri sendiri dengan orang lain yaitu teman sebaya. Misalnya apakah ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
2. Untuk orang-orang yang dikatakan masih berfungsi normal
Dikatakan untuk orang-orang yang masih berfungsi normal karena dalam konseling menekankan pada hal-hal yang sadar dan masa sekarang. Orang yang masih berfungsi normal bisa membuat suatu keputusan untuk menyelesaikan masalahnya. Dalam hal ini sangat berkaitan dengan no.4
3. Berdasar teori dan setting nya secara terstruktur
Teori ini dibutuhkan karena memungkinkan konselor untuk membedakan perilaku atau tingkah laku yang normal-rasional dan abnormal-irasional. Selain itu juga untuk membantu konselor memahami penyebab tingkah laku dari klien. Settingnya secara terstruktur misalnya dilakukan disuatu tempat yaitu tempat praktek konselor dan melakukan konseling hanya 1 minggu sekali.
4. Suatu proses di mana klien belajar bagaimana membuat suatu keputusan dan memformulasikan cara baru untuk bertingkah laku, merasa dan berpikir.
Dalam konseling diharapkan klien bisa menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya setelah mendapat bantuan dari konselor. Perubahan yang terjadi pada tingkah laku seseorang merupakan hasil yang diperoleh dari seseorang setelah mengambil suatu keputusan dalam menyelesaikan masalahnya.
Sedangkan psikoterapi diungkapkan sebagai berikut :
1. Berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius
Dalam psikoterapi masalah yang dihadapi berkaitan dengan masalah kejiwaan, masalah yang sangat mendalam dan masalah yang lebih serius yang mengakibatkan setiap individunya mengalami penderitaan karena gangguan tersebut. Misalnya masalah Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
2. Lebih menekankan pada yang lalu
Karena biasanya orang akan selalu merepres permasalahannya supaya tidak muncul ke alam sadar. Kalau permasalahannya muncul ke alam sadar bisa menyebabkan seseorang tersebut menjadi cemas, jadi biasanya orang tersebut akan merepres masa lalu yang kurang menyenangkan sampai menjadi sebuah gangguan yang mengganggu kehidupannya. Oleh karena itu psikoterapi menekankan pada yang lalu yaitu untuk mengetahui akar permasalahan yang dihadapi oleh seorang klien, sehingga seorang terapis bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kliennya.
3. Lebih menekankan pada insight dari pada perubahan
Misalnya dia fobia terhadap pisang, diberikan pemahaman bahwa pisang itu tidak akan membuat hidupnya menderita atau pisang tersebut tidak membuat ia meninggal.
4. Terapis menyembunyikan dan tidak memberitahu nilai-nilai dan perasaan
Terapis menyembunyikan karena untuk menjaga perasaan dari klien dan juga supaya klien tersebut tidak semakin cemas dan stress. Selain itu, agar klien bisa bercerita atau mengungkapkan pikirannya secara terbuka tidak ada yang ditutup-tutupi karena ia tahu misalnya nilai mengenai dia negative.
5. Peran terapis lebih sebagai ahli bukan sharing partner
Untuk menjadi seorang terapi ia harus mengikuti pelatihan yang cukup lama misalnya mengikuti pelatihan selama 3-4 tahun. Seorang terapis kecil kemungkinannya untuk mencampur baurkan isu klien dengan dirinya dan juga kecil kemungkinannya untuk dieksploitasi atau dilecehkan secara sengaja maupun tidak karena terapis sudah mendapatkan pelatihan yang cukup lama, dimana pelatihan tersebut diajarkan bagaimana masalah klien tidak tercampur baur dengan masalah pribadinya.
6. Perubahan-perubahan rekonstruktif
Psikoterpi rekonstruktif berkaitan dengan pendektan psikoanalisis. Artinya berkaitan dengan alam bawah sadar seseorang.
7. Hubungan jangka panjang (20-40 sesi)
Dalam psikoterapi sangat membutuhkan waktu yang lama yang tidak sebentar seperti dalam konseling hanya datang dalam 1 minggu 1kali. Dalam psikoterapi dilakukan beberapa sesi sehingga membutuhkan komitmen waktu yang substansial yang kadang-kadang menuntut pasien untuk hadir beberapa kali seminggu selama beberapa tahun. Proses psikoterapi panjang misalnya ada 20-40 sesi yang harus dilakukan pasien untuk membantu masalahnya misalnya menghilangkan fobia pada pisang.

Setelah mengetahui perbedaan dari psikoterapi dan konseling, selanjutnya saya akan membahas mengenai penjelasan terhadap mental illness. Menurut J.P Chaplin mental illness terdiri dari :
1. Biological
Biological ini meliputi keadaan mental organic, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Keadaan mental organic adalah keadaan tidak normal baik secara fisik maupun biologis karena adanya kerusakan fungsi pada otak. Sedangkan penyakit afektif misalnya gangguan bipolar. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) mengatakan bahwa pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang pada saat itu bahwa penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
2. Psychological
Psychological ini meliputi ada peristiwa pencetusnya dan berefek pada keberfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tidak dapat terselesaikan atau berkepanjangan, krisis dalam perkembangan, gangguan pikiran dan menimbulkan stress. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu dalam  berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup dari seseorang.
3. Sosiological
Mental illness bersadarkan sociological meliputi kesukaran pada dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini diharapkan dapat mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakang pada kondisi sosio-budaya tertentu.
4. Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan, terapis menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

Dan ini pembahasan terakhir dalam tulisan ini mengenai bentuk-bentuk psikoterapi. Berikut ini bentuk-bentuk dari psikoterapi yaitu
1. Psikoterapi suportif
- Definisi psikoterapi suportif adalah bentuk alternative yang bertujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya.
- Tujuan dari Psikoterapi suportif adalah menaikkan fungsi psikologi dan social, menyadari realitas dan keterbatasannya agar dapat diterima, memindahkan dukungan professional kepada keluarga.
- Syarat pemberian psikoterapi suportif adalah gangguannya bersifat sedang dan kepribadian premorbid (kepribadian yang khas) pasien yang kuat disertai dengan adanya pemulihan diri yang kuat.
- Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya
- Contoh : mengatasi trauma kekerasan. Tujuan perubahan perilaku biasanya dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar atau menggunakan teknik-teknik self regulation.
2. Psikoterapi reeduktif
- Psikoterapi reeduktif ini bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif dan baik lagi. Tugas terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mengajak pasien untuk mengkaji ulang lagi keyakinannya, mendidik kembali, agar pasien dapat menyesuaikan dirinya lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas masalahnya.
- Biasanya psikoterapi reeduktif terjadi dalam konseling.
3. Psikoterapi rekonstruktif
- Psikoterapi rekonstruktif ini bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian dari pasien, yaitu dengan cara menggali ketidaksadaran dari pasien, menganalisis mekanisme defensive yang patologis, lalu memberikan pemahaman akan adanya proses-proses yang tidak sadar.
- Psikoterapi rekonstruktif berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan berlangsung secara intensif dalam waktu yang sangat lama

Sumber :
http://www.slideshare.net/iebeiyan/45620167-psikoterapisuportif
http://kulpulan-materi.blogspot.com/2012/03/gangguan-mental-organik.html 3:17
https://psyche2nest.wordpress.com/2013/03/17/psikoterapi-minggu-1/ 3:17
Lesmana, J, M. (2013). Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia


Psikoterapi, Konseling, dan Mental Illness

Perbedaan antara psikoterapi dan konseling!
Sebelum membicarakan mengenai perbedaan psikoterapi dengan konseling, dalam tulisan ini akan di awali persamaan antara psikoterapi dan konseling yaitu psikoterapi dan konseling dilakukan atas permintaan klien atau pasiennya dan sama-sama membantu orang lain yang mempunyai masalah. Tujuan dari konseling itu sendiri adalah proses memberi bantuan kepada seseorang untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri dan untuk mengembangkan kepribadian seoptimal mungkin. Menurut Rogers (dalam lesmana, 2013) bahwa konseling lebih banyak digunakan dikalangan pendidikan, sedangkan terapi banyak digunakan oleh pekerja social, psikolog, dan psikiater. Sedangkan menurut Gladding (dalam lesmana, 2013) mengatakan bahwa definisi konseling professional yang diterima oleh American Counseling Association (ACA) adalah aplikasi dari prinsip-prinsip kesehatan mental, psikologi, atau perkembangan manusia melalui intervensi kognitif, afektif, behavioral atau sistemik, strategi yang memperhatikan kesejahteraan, pertumbuhan pribadi, atau pengembangan karier, tetapi juga patologi. Selain itu Gladding (dalam lesmana, 2013) juga mengatakan bahwa konseling adalah suatu profesi yaitu seseorang yang melakukan konseling adalah orang yang sudah mendapatkan pendidikan untuk melakukan konseling dan sudah mendapatkan lisensi untuk melakukan konseling.  Berkaitan dengan definisi tersebut, maka konseling terkait dengan :
1.Keprihatinan pada kesejahteraan, pertumbuhan seseorang, karier dan juga patologi dari seseorang atau pribadi.
2.Untuk orang-orang yang dikatakan masih berfungsi normal
3.Berdasar teori dan setting nya secara terstruktur
4.Suatu proses di mana klien belajar bagaimana membuat suatu keputusan dan memformulasikan cara baru untuk bertingkah laku, merasa dan berpikir.
Sedangkan mengenai psikoterapi, Gladding (dalam lesmana, 2013) menyebutkan sebagai berikut:
1.Berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius
2.Lebih menekankan pada yang lalu
3.Lebih menekankan pada insight dari pada perubahan
4.Terapis menyembunyikan dan tidak memberitahu nilai-nilai dan perasaan
5.Peran terapis lebih sebagai ahli bukan sharing partner
6.Perubahan-perubahan rekonstruktif
7.Hubungan jangka panjang (20-40 sesi)
Menurut Brammer, Abrego, dan Shostrom (dalam lesmana, 2013) perbedaan psikoterapi dan konseling adalah :
- Konseling ditandai dengan : educational, supportive, situational dan developmental, problem solving, conscious awareness,Empasis on normal, focus on present.
- Psikoterapi ditandai dengan : supportive (more focused), reconstruktive, depth emphasis, analytical, focus on past, emphasis on ‘dysfunction’ or severe emotional problems.
Menurut Hansen, Stevic dan warner (dalam lesmana,2013) menambahkan bahwa masalah yang ditangani konseling lebih pada masalah-masalah hubungan interpersonal dan berkaitan dengan masalah-masalah peran. Selain itu, ada juga perbedaan antara konseling dan psikoterapi menurut Palmer (2011) :
- Psikoterapi
1. Melibatkan pelatihan yang sangat lama (3-4 tahun dan terkadang lebih)
2. Menangani masalah kedalaman bawah sadar, perilaku dan kepribadian yang berkepanjangan
3. Psikoterapi berkaitan dengan perubahan kepribadian yang radikal dan jauh mendalam
4. Psikoterapi, awalnya berkaitan dengan profesi medis
5. Psikoterapi membutuhkan komitmen waktu yang substansial
- Konseling
1. Pelatihan konseling akhir-akhir ini menjadi bersifat wajib, dengan psikolog konseling dan konselor harus melengkapi paling tidak 40 jam sebagai persyaratan untuk memenuhi status terakreditasi dan sertifikasi
2. Konseling berkaitan dengan perubahan sementara yang simptomatik
3. Konseling berjangka sangat pendek
Dari beberapa pendapat para tokoh mengenai perbedaan antara psikoterapi dan konseling, dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Konseling
1. Konseling dilakukan pada orang-orang yang dikatakan masih berfungsi normal
2. Setting nya secara terstruktur
3. Banyak digunakan dikalangan pendidikan
4. Pelatihan konseling bersifat wajib, dengan psikolog konseling dan konselor harus melengkapi paling tidak 40 jam sebagai persyaratan untuk memenuhi status terakreditasi dan sertifikasi
5. Konseling menekankan pada hal-hal yang sadar dan masa sekarang
6. Konseling lebih pada masalah-masalah yang membutuhkan pemecahan masalah
7. Konseling berjangka sangat pendek
- Psikoterapi
1. Berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius
2. Lebih menekankan pada yang lalu
3. Hubungan jangka panjang
4. Melibatkan pelatihan yang sangat lama (3-4 tahun dan terkadang lebih)
5. Banyak digunakan oleh pekerja social, psikolog, dan psikiater
6. Menangani masalah kedalaman bawah sadar, perilaku dan kepribadian yang berkepanjangan
7. Psikoterapi berkaitan dengan perubahan kepribadian yang radikal dan jauh mendalam

Selanjutnya dalam tulisan ini, saya akan membahas mengenai psikoterapi dalam berbagai pendekatan terhadap mental illness.
1. Psychoanalysis & Psychodynamic:
Pendekatan ini berfokus pada memunculkannya perasaan dan pikiran yaitu dengan cara memahami akar masalah yang tersembunyi di pikiran bawah sadar seseorang.  Psikoanalisis mencoba untuk menginterpretasikan arti dari mimpi berdasarkan isi maupun dari asosiasi yang dibuat oleh klien terhadap mimpinya
2. Behavior Therapy:
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup.
3. Cognitive Therapy
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) memiliki konsep bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku.
4. Humanistic Therapy
Dalam pendekatan Humanistic Therapy bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan, bukan untuk mengarahkan perubahan.
5. Integrative / Holistic Therapy
Integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan. Dalam pendekatan ini terapis melihat kebutuhan klien dari berbagai macam perspektif dan mengembangkan perencanaan treatment yang dapat memberikan pengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi dari klien.

Psikoterapi menurut phares (dalam slamet dan sumarmo, 2007) dapat dibedakan dalam beberapa aspek, yakni berdasarkan taraf kedalamannya dan menurut tujuannya. Ditulisan ini akan dibahas mengenai bentuk utama terapi (taraf kedalamannya) :
1. Psikoterapi suportif
Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya.
2. Psikoterapi reeduktif
Tugas terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mengajak pasien untuk mengkaji ulang lagi keyakinannya, mendidik kembali, agar pasien dapat menyesuaikan dirinya lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas masalahnya.
3. Psikoterapi rekonstruktif
Psikoterapi rekonstruktif ini bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian dari pasien. Psikoterpi rekonstruktif berkaitan dengan pendektan psikoanalisis dan berlangsung secara intensif dalam waktu yang sangat lama.

Sumber :
http://www.slideshare.net/iebeiyan/45620167-psikoterapisuportif 3:17
http://afiantika.blogspot.com/2014_04_01_archive.html 3:17
Slamet, S,. & Sumarmo, M. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Lesmana, J, M. (2013). Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Palmer, S. (2011). Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Apa itu Psikoterapi ?

Berikut beberapa definisi psikoterapi menurut para tokoh, Wolberg dan Frank (dalam Slamet dan Sumarmo, 2007) menyatakan bahwa psikoterapi adalah suatu bentuk perlakuan (treatment) terhadap masalah yang sifatnya emosional, di mana seorang yang terlatih secara sengaja membina hubungan professional dengan seorang klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah atau memperlambat simtom, untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu, dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif. Sedangkan definisi Psikoterapi menurut Norcross (dalam Sundberg,Allen, dan Julian, 2007) adalah pengaplikasian berbagai metode klinis dan sikap interpersonal yang informed (didasari oleh informasi yang cukup) dan dilakukan dengan sengaja, berdasarkan prinsip-prinsip psikologis yang sudah mapan, dengan maksud membantu orang lain untuk memodifikasi perilaku, kognisi, emosi, dan karakteristik pribadi lainnya ke arah yang diinginkan oleh partisipasinya.
Berdasarkan definisi dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa psikoterapi merupakan suatu pengaplikasian berbagai metode klinis yang berupa perlakuan atau treatmet berdasarkan prinsip-prinsip psikologis terhadap suatu masalah yang sifatnya emosional dengan tujuan untuk memodifikasi perilaku, kognisi, emosi dan karakteristik pribadi lainnya yang diinginkan oleh partisipasinya. Psikoterapi ini merupakan salah satu bentuk metode intervensi dalam konteks hubungan professional antara psikolog dan klien.

Psikoterapi ini memiliki tujuan, secara umum tujuan tersebut adalah untuk pemecahan masalah karena setiap manusia pasti memiliki suatu permasalahan dan permasalahan tersebut bisa mengganggu kehidupannya. Kedua, untuk peningkatan kemampuan seseorang mengatasi masalahnya sendiri yaitu apakah seseorang bisa mengatasi masalah yang dialaminya dari masalah yang kecil sampai masalah yang besar. Ketiga, pencegahan timbulnya masalah ini agar seseorang tidak mengalami penderitaan yang berkepanjangan akibat masalah yang dialaminya, dan peningkatan seseorang untuk lebih berbahagia. Menurut  Wolberg dan Frank (dalam Slamet dan Sumarmo, 2007) tujuan psikoterapi :
1. Menghilangkan yaitu menghilangkan penderitaan seseorang. Misalnya menghilangkan fobia.  Fobia membuat hidup seseorang jadi menderita atau sangat mengganggu bagi yang mengalaminya.
2. Mengubah atau memperlambat simtom. Misalnya dengan psikoterapi bisa mengubah emosi negative seseorang menjadi lebih positif dan bisa menghambat gangguan agar tidak menjadi parah.
3. Mengantarai pola perilaku yang terganggu, dan
4. Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif yaitu membuat seseorang lebih mampu dan kuat untuk menghadapi suatu permasalahan yang dialaminya, misalnya tidak putus asa terhadap masalah yang dialaminya.
Sedangkat menurut Norcross (dalam Sundberg, Allen, dan Julian, 2007) tujuan psikoterapi yaitu untuk memodifikasi perilaku, kognisi, emosi, dan karakteristik pribadi lainnya ke arah yang diinginkan oleh partisipasinya.

Setelah kita mengetahui tujuan dari psikoterapi, berikut ini mengenai unsur-unsur dari psikoterapi. Menurut Masserman (dalam Mujib, 2002) mengungkapkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi :
1. Peran sosial
2. Hubungan psikoterapeutik : Adanya hubungan professional antara terapis dengan kliennya, dimana terapis tersebut      mendengarkan permasalahan yang dialami klien dengan penuh perhatian dan kemudian terapis tersebut menyampaikan pemahamannya dengan cara treatment untuk menghilangkan penderitaan klien.
3. Psikoterapi sebagai kesempatan untuk belajar kembali : Tujuan dari psikoterapi adalah salah satunya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif, jadi membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi yaitu belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan atau belajar dari masalah yang pernah dialaminya.
4. Motivasi, kepercayaan dan harapan : Dalam psikoterapi kepercayaan merupakan hal yang sangat penting. Seorang klien dapat mempercayai terapisnya, dimana terapisnya tersebut menghormati klien dan dapat merahasiakan permasalahan yang dialami klien. Kepercayaan pada terapis ini sangat berpengaruh pada saat proses dilakukannya terapi, apakah klien mempercayai terapisnya sehingga klien dapat mengungkapkan pikirannya secara terbuka. Motivasi sangat berpengaruh pada klien, misalnya klien memiliki dorongan yang kuat untuk sembuh atau bisa tidak fobia lagi terhadap pisang, dengan seorang klien mempunyai motivasi dapat memudahkan proses terapi pada klien tersebut.
5. Hak : Terapis dan klien sama-sama memiliki haknya masing-masing. Misalnya klien berhak untuk tidak memberikan jawaban atas pertanyaan dari terapis.
6. Retrospeksi
7. Reduksi
8. Rehabilitasi


Sumber :
Mujib, A. (2002). Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Grafindo Persada.
Slamet, S., Sumarmo, M. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Sundberg, N, D., Allen, A, W., & Julian, R, T,. (2007). Psikologi Klinis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar