Tersenyum

Tersenyum

Selasa, 17 Maret 2015


Penjelasan Psikoterapi, Konseling dan Mental Illness

Dalam tulisan ini berisi mengenai perbedaan psikoterapi dan konseling, penjelasan terhadap mental illness dan bentuk-bentuk dari psikoterapi. Pertama saya akan menulis mengenai perbedaan psikoterapi dan konseling. Menurut Gladding (dalam Lesmana, 2005) konseling terkait dengan :
1. Keprihatinan pada kesejahteraan, pertumbuhan seseorang, karier dan juga patologi dari seseorang atau pribadi.
Dalam hal ini berkaitan dengan bidang-bidang yang melibatkan hubungan antarmanusia dengan dirinya sendiri. Contoh dalam situasi di sekolah yaitu melibatkan antara diri sendiri dengan orang lain yaitu teman sebaya. Misalnya apakah ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
2. Untuk orang-orang yang dikatakan masih berfungsi normal
Dikatakan untuk orang-orang yang masih berfungsi normal karena dalam konseling menekankan pada hal-hal yang sadar dan masa sekarang. Orang yang masih berfungsi normal bisa membuat suatu keputusan untuk menyelesaikan masalahnya. Dalam hal ini sangat berkaitan dengan no.4
3. Berdasar teori dan setting nya secara terstruktur
Teori ini dibutuhkan karena memungkinkan konselor untuk membedakan perilaku atau tingkah laku yang normal-rasional dan abnormal-irasional. Selain itu juga untuk membantu konselor memahami penyebab tingkah laku dari klien. Settingnya secara terstruktur misalnya dilakukan disuatu tempat yaitu tempat praktek konselor dan melakukan konseling hanya 1 minggu sekali.
4. Suatu proses di mana klien belajar bagaimana membuat suatu keputusan dan memformulasikan cara baru untuk bertingkah laku, merasa dan berpikir.
Dalam konseling diharapkan klien bisa menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya setelah mendapat bantuan dari konselor. Perubahan yang terjadi pada tingkah laku seseorang merupakan hasil yang diperoleh dari seseorang setelah mengambil suatu keputusan dalam menyelesaikan masalahnya.
Sedangkan psikoterapi diungkapkan sebagai berikut :
1. Berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius
Dalam psikoterapi masalah yang dihadapi berkaitan dengan masalah kejiwaan, masalah yang sangat mendalam dan masalah yang lebih serius yang mengakibatkan setiap individunya mengalami penderitaan karena gangguan tersebut. Misalnya masalah Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
2. Lebih menekankan pada yang lalu
Karena biasanya orang akan selalu merepres permasalahannya supaya tidak muncul ke alam sadar. Kalau permasalahannya muncul ke alam sadar bisa menyebabkan seseorang tersebut menjadi cemas, jadi biasanya orang tersebut akan merepres masa lalu yang kurang menyenangkan sampai menjadi sebuah gangguan yang mengganggu kehidupannya. Oleh karena itu psikoterapi menekankan pada yang lalu yaitu untuk mengetahui akar permasalahan yang dihadapi oleh seorang klien, sehingga seorang terapis bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kliennya.
3. Lebih menekankan pada insight dari pada perubahan
Misalnya dia fobia terhadap pisang, diberikan pemahaman bahwa pisang itu tidak akan membuat hidupnya menderita atau pisang tersebut tidak membuat ia meninggal.
4. Terapis menyembunyikan dan tidak memberitahu nilai-nilai dan perasaan
Terapis menyembunyikan karena untuk menjaga perasaan dari klien dan juga supaya klien tersebut tidak semakin cemas dan stress. Selain itu, agar klien bisa bercerita atau mengungkapkan pikirannya secara terbuka tidak ada yang ditutup-tutupi karena ia tahu misalnya nilai mengenai dia negative.
5. Peran terapis lebih sebagai ahli bukan sharing partner
Untuk menjadi seorang terapi ia harus mengikuti pelatihan yang cukup lama misalnya mengikuti pelatihan selama 3-4 tahun. Seorang terapis kecil kemungkinannya untuk mencampur baurkan isu klien dengan dirinya dan juga kecil kemungkinannya untuk dieksploitasi atau dilecehkan secara sengaja maupun tidak karena terapis sudah mendapatkan pelatihan yang cukup lama, dimana pelatihan tersebut diajarkan bagaimana masalah klien tidak tercampur baur dengan masalah pribadinya.
6. Perubahan-perubahan rekonstruktif
Psikoterpi rekonstruktif berkaitan dengan pendektan psikoanalisis. Artinya berkaitan dengan alam bawah sadar seseorang.
7. Hubungan jangka panjang (20-40 sesi)
Dalam psikoterapi sangat membutuhkan waktu yang lama yang tidak sebentar seperti dalam konseling hanya datang dalam 1 minggu 1kali. Dalam psikoterapi dilakukan beberapa sesi sehingga membutuhkan komitmen waktu yang substansial yang kadang-kadang menuntut pasien untuk hadir beberapa kali seminggu selama beberapa tahun. Proses psikoterapi panjang misalnya ada 20-40 sesi yang harus dilakukan pasien untuk membantu masalahnya misalnya menghilangkan fobia pada pisang.

Setelah mengetahui perbedaan dari psikoterapi dan konseling, selanjutnya saya akan membahas mengenai penjelasan terhadap mental illness. Menurut J.P Chaplin mental illness terdiri dari :
1. Biological
Biological ini meliputi keadaan mental organic, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Keadaan mental organic adalah keadaan tidak normal baik secara fisik maupun biologis karena adanya kerusakan fungsi pada otak. Sedangkan penyakit afektif misalnya gangguan bipolar. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) mengatakan bahwa pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang pada saat itu bahwa penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
2. Psychological
Psychological ini meliputi ada peristiwa pencetusnya dan berefek pada keberfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tidak dapat terselesaikan atau berkepanjangan, krisis dalam perkembangan, gangguan pikiran dan menimbulkan stress. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu dalam  berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup dari seseorang.
3. Sosiological
Mental illness bersadarkan sociological meliputi kesukaran pada dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini diharapkan dapat mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakang pada kondisi sosio-budaya tertentu.
4. Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan, terapis menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

Dan ini pembahasan terakhir dalam tulisan ini mengenai bentuk-bentuk psikoterapi. Berikut ini bentuk-bentuk dari psikoterapi yaitu
1. Psikoterapi suportif
- Definisi psikoterapi suportif adalah bentuk alternative yang bertujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya.
- Tujuan dari Psikoterapi suportif adalah menaikkan fungsi psikologi dan social, menyadari realitas dan keterbatasannya agar dapat diterima, memindahkan dukungan professional kepada keluarga.
- Syarat pemberian psikoterapi suportif adalah gangguannya bersifat sedang dan kepribadian premorbid (kepribadian yang khas) pasien yang kuat disertai dengan adanya pemulihan diri yang kuat.
- Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya
- Contoh : mengatasi trauma kekerasan. Tujuan perubahan perilaku biasanya dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar atau menggunakan teknik-teknik self regulation.
2. Psikoterapi reeduktif
- Psikoterapi reeduktif ini bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif dan baik lagi. Tugas terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mengajak pasien untuk mengkaji ulang lagi keyakinannya, mendidik kembali, agar pasien dapat menyesuaikan dirinya lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas masalahnya.
- Biasanya psikoterapi reeduktif terjadi dalam konseling.
3. Psikoterapi rekonstruktif
- Psikoterapi rekonstruktif ini bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian dari pasien, yaitu dengan cara menggali ketidaksadaran dari pasien, menganalisis mekanisme defensive yang patologis, lalu memberikan pemahaman akan adanya proses-proses yang tidak sadar.
- Psikoterapi rekonstruktif berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan berlangsung secara intensif dalam waktu yang sangat lama

Sumber :
http://www.slideshare.net/iebeiyan/45620167-psikoterapisuportif
http://kulpulan-materi.blogspot.com/2012/03/gangguan-mental-organik.html 3:17
https://psyche2nest.wordpress.com/2013/03/17/psikoterapi-minggu-1/ 3:17
Lesmana, J, M. (2013). Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia


Psikoterapi, Konseling, dan Mental Illness

Perbedaan antara psikoterapi dan konseling!
Sebelum membicarakan mengenai perbedaan psikoterapi dengan konseling, dalam tulisan ini akan di awali persamaan antara psikoterapi dan konseling yaitu psikoterapi dan konseling dilakukan atas permintaan klien atau pasiennya dan sama-sama membantu orang lain yang mempunyai masalah. Tujuan dari konseling itu sendiri adalah proses memberi bantuan kepada seseorang untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri dan untuk mengembangkan kepribadian seoptimal mungkin. Menurut Rogers (dalam lesmana, 2013) bahwa konseling lebih banyak digunakan dikalangan pendidikan, sedangkan terapi banyak digunakan oleh pekerja social, psikolog, dan psikiater. Sedangkan menurut Gladding (dalam lesmana, 2013) mengatakan bahwa definisi konseling professional yang diterima oleh American Counseling Association (ACA) adalah aplikasi dari prinsip-prinsip kesehatan mental, psikologi, atau perkembangan manusia melalui intervensi kognitif, afektif, behavioral atau sistemik, strategi yang memperhatikan kesejahteraan, pertumbuhan pribadi, atau pengembangan karier, tetapi juga patologi. Selain itu Gladding (dalam lesmana, 2013) juga mengatakan bahwa konseling adalah suatu profesi yaitu seseorang yang melakukan konseling adalah orang yang sudah mendapatkan pendidikan untuk melakukan konseling dan sudah mendapatkan lisensi untuk melakukan konseling.  Berkaitan dengan definisi tersebut, maka konseling terkait dengan :
1.Keprihatinan pada kesejahteraan, pertumbuhan seseorang, karier dan juga patologi dari seseorang atau pribadi.
2.Untuk orang-orang yang dikatakan masih berfungsi normal
3.Berdasar teori dan setting nya secara terstruktur
4.Suatu proses di mana klien belajar bagaimana membuat suatu keputusan dan memformulasikan cara baru untuk bertingkah laku, merasa dan berpikir.
Sedangkan mengenai psikoterapi, Gladding (dalam lesmana, 2013) menyebutkan sebagai berikut:
1.Berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius
2.Lebih menekankan pada yang lalu
3.Lebih menekankan pada insight dari pada perubahan
4.Terapis menyembunyikan dan tidak memberitahu nilai-nilai dan perasaan
5.Peran terapis lebih sebagai ahli bukan sharing partner
6.Perubahan-perubahan rekonstruktif
7.Hubungan jangka panjang (20-40 sesi)
Menurut Brammer, Abrego, dan Shostrom (dalam lesmana, 2013) perbedaan psikoterapi dan konseling adalah :
- Konseling ditandai dengan : educational, supportive, situational dan developmental, problem solving, conscious awareness,Empasis on normal, focus on present.
- Psikoterapi ditandai dengan : supportive (more focused), reconstruktive, depth emphasis, analytical, focus on past, emphasis on ‘dysfunction’ or severe emotional problems.
Menurut Hansen, Stevic dan warner (dalam lesmana,2013) menambahkan bahwa masalah yang ditangani konseling lebih pada masalah-masalah hubungan interpersonal dan berkaitan dengan masalah-masalah peran. Selain itu, ada juga perbedaan antara konseling dan psikoterapi menurut Palmer (2011) :
- Psikoterapi
1. Melibatkan pelatihan yang sangat lama (3-4 tahun dan terkadang lebih)
2. Menangani masalah kedalaman bawah sadar, perilaku dan kepribadian yang berkepanjangan
3. Psikoterapi berkaitan dengan perubahan kepribadian yang radikal dan jauh mendalam
4. Psikoterapi, awalnya berkaitan dengan profesi medis
5. Psikoterapi membutuhkan komitmen waktu yang substansial
- Konseling
1. Pelatihan konseling akhir-akhir ini menjadi bersifat wajib, dengan psikolog konseling dan konselor harus melengkapi paling tidak 40 jam sebagai persyaratan untuk memenuhi status terakreditasi dan sertifikasi
2. Konseling berkaitan dengan perubahan sementara yang simptomatik
3. Konseling berjangka sangat pendek
Dari beberapa pendapat para tokoh mengenai perbedaan antara psikoterapi dan konseling, dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Konseling
1. Konseling dilakukan pada orang-orang yang dikatakan masih berfungsi normal
2. Setting nya secara terstruktur
3. Banyak digunakan dikalangan pendidikan
4. Pelatihan konseling bersifat wajib, dengan psikolog konseling dan konselor harus melengkapi paling tidak 40 jam sebagai persyaratan untuk memenuhi status terakreditasi dan sertifikasi
5. Konseling menekankan pada hal-hal yang sadar dan masa sekarang
6. Konseling lebih pada masalah-masalah yang membutuhkan pemecahan masalah
7. Konseling berjangka sangat pendek
- Psikoterapi
1. Berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius
2. Lebih menekankan pada yang lalu
3. Hubungan jangka panjang
4. Melibatkan pelatihan yang sangat lama (3-4 tahun dan terkadang lebih)
5. Banyak digunakan oleh pekerja social, psikolog, dan psikiater
6. Menangani masalah kedalaman bawah sadar, perilaku dan kepribadian yang berkepanjangan
7. Psikoterapi berkaitan dengan perubahan kepribadian yang radikal dan jauh mendalam

Selanjutnya dalam tulisan ini, saya akan membahas mengenai psikoterapi dalam berbagai pendekatan terhadap mental illness.
1. Psychoanalysis & Psychodynamic:
Pendekatan ini berfokus pada memunculkannya perasaan dan pikiran yaitu dengan cara memahami akar masalah yang tersembunyi di pikiran bawah sadar seseorang.  Psikoanalisis mencoba untuk menginterpretasikan arti dari mimpi berdasarkan isi maupun dari asosiasi yang dibuat oleh klien terhadap mimpinya
2. Behavior Therapy:
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup.
3. Cognitive Therapy
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) memiliki konsep bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku.
4. Humanistic Therapy
Dalam pendekatan Humanistic Therapy bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan, bukan untuk mengarahkan perubahan.
5. Integrative / Holistic Therapy
Integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan. Dalam pendekatan ini terapis melihat kebutuhan klien dari berbagai macam perspektif dan mengembangkan perencanaan treatment yang dapat memberikan pengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi dari klien.

Psikoterapi menurut phares (dalam slamet dan sumarmo, 2007) dapat dibedakan dalam beberapa aspek, yakni berdasarkan taraf kedalamannya dan menurut tujuannya. Ditulisan ini akan dibahas mengenai bentuk utama terapi (taraf kedalamannya) :
1. Psikoterapi suportif
Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya.
2. Psikoterapi reeduktif
Tugas terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mengajak pasien untuk mengkaji ulang lagi keyakinannya, mendidik kembali, agar pasien dapat menyesuaikan dirinya lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas masalahnya.
3. Psikoterapi rekonstruktif
Psikoterapi rekonstruktif ini bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian dari pasien. Psikoterpi rekonstruktif berkaitan dengan pendektan psikoanalisis dan berlangsung secara intensif dalam waktu yang sangat lama.

Sumber :
http://www.slideshare.net/iebeiyan/45620167-psikoterapisuportif 3:17
http://afiantika.blogspot.com/2014_04_01_archive.html 3:17
Slamet, S,. & Sumarmo, M. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Lesmana, J, M. (2013). Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Palmer, S. (2011). Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Apa itu Psikoterapi ?

Berikut beberapa definisi psikoterapi menurut para tokoh, Wolberg dan Frank (dalam Slamet dan Sumarmo, 2007) menyatakan bahwa psikoterapi adalah suatu bentuk perlakuan (treatment) terhadap masalah yang sifatnya emosional, di mana seorang yang terlatih secara sengaja membina hubungan professional dengan seorang klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah atau memperlambat simtom, untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu, dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif. Sedangkan definisi Psikoterapi menurut Norcross (dalam Sundberg,Allen, dan Julian, 2007) adalah pengaplikasian berbagai metode klinis dan sikap interpersonal yang informed (didasari oleh informasi yang cukup) dan dilakukan dengan sengaja, berdasarkan prinsip-prinsip psikologis yang sudah mapan, dengan maksud membantu orang lain untuk memodifikasi perilaku, kognisi, emosi, dan karakteristik pribadi lainnya ke arah yang diinginkan oleh partisipasinya.
Berdasarkan definisi dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa psikoterapi merupakan suatu pengaplikasian berbagai metode klinis yang berupa perlakuan atau treatmet berdasarkan prinsip-prinsip psikologis terhadap suatu masalah yang sifatnya emosional dengan tujuan untuk memodifikasi perilaku, kognisi, emosi dan karakteristik pribadi lainnya yang diinginkan oleh partisipasinya. Psikoterapi ini merupakan salah satu bentuk metode intervensi dalam konteks hubungan professional antara psikolog dan klien.

Psikoterapi ini memiliki tujuan, secara umum tujuan tersebut adalah untuk pemecahan masalah karena setiap manusia pasti memiliki suatu permasalahan dan permasalahan tersebut bisa mengganggu kehidupannya. Kedua, untuk peningkatan kemampuan seseorang mengatasi masalahnya sendiri yaitu apakah seseorang bisa mengatasi masalah yang dialaminya dari masalah yang kecil sampai masalah yang besar. Ketiga, pencegahan timbulnya masalah ini agar seseorang tidak mengalami penderitaan yang berkepanjangan akibat masalah yang dialaminya, dan peningkatan seseorang untuk lebih berbahagia. Menurut  Wolberg dan Frank (dalam Slamet dan Sumarmo, 2007) tujuan psikoterapi :
1. Menghilangkan yaitu menghilangkan penderitaan seseorang. Misalnya menghilangkan fobia.  Fobia membuat hidup seseorang jadi menderita atau sangat mengganggu bagi yang mengalaminya.
2. Mengubah atau memperlambat simtom. Misalnya dengan psikoterapi bisa mengubah emosi negative seseorang menjadi lebih positif dan bisa menghambat gangguan agar tidak menjadi parah.
3. Mengantarai pola perilaku yang terganggu, dan
4. Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif yaitu membuat seseorang lebih mampu dan kuat untuk menghadapi suatu permasalahan yang dialaminya, misalnya tidak putus asa terhadap masalah yang dialaminya.
Sedangkat menurut Norcross (dalam Sundberg, Allen, dan Julian, 2007) tujuan psikoterapi yaitu untuk memodifikasi perilaku, kognisi, emosi, dan karakteristik pribadi lainnya ke arah yang diinginkan oleh partisipasinya.

Setelah kita mengetahui tujuan dari psikoterapi, berikut ini mengenai unsur-unsur dari psikoterapi. Menurut Masserman (dalam Mujib, 2002) mengungkapkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi :
1. Peran sosial
2. Hubungan psikoterapeutik : Adanya hubungan professional antara terapis dengan kliennya, dimana terapis tersebut      mendengarkan permasalahan yang dialami klien dengan penuh perhatian dan kemudian terapis tersebut menyampaikan pemahamannya dengan cara treatment untuk menghilangkan penderitaan klien.
3. Psikoterapi sebagai kesempatan untuk belajar kembali : Tujuan dari psikoterapi adalah salah satunya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif, jadi membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi yaitu belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan atau belajar dari masalah yang pernah dialaminya.
4. Motivasi, kepercayaan dan harapan : Dalam psikoterapi kepercayaan merupakan hal yang sangat penting. Seorang klien dapat mempercayai terapisnya, dimana terapisnya tersebut menghormati klien dan dapat merahasiakan permasalahan yang dialami klien. Kepercayaan pada terapis ini sangat berpengaruh pada saat proses dilakukannya terapi, apakah klien mempercayai terapisnya sehingga klien dapat mengungkapkan pikirannya secara terbuka. Motivasi sangat berpengaruh pada klien, misalnya klien memiliki dorongan yang kuat untuk sembuh atau bisa tidak fobia lagi terhadap pisang, dengan seorang klien mempunyai motivasi dapat memudahkan proses terapi pada klien tersebut.
5. Hak : Terapis dan klien sama-sama memiliki haknya masing-masing. Misalnya klien berhak untuk tidak memberikan jawaban atas pertanyaan dari terapis.
6. Retrospeksi
7. Reduksi
8. Rehabilitasi


Sumber :
Mujib, A. (2002). Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Grafindo Persada.
Slamet, S., Sumarmo, M. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Sundberg, N, D., Allen, A, W., & Julian, R, T,. (2007). Psikologi Klinis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sabtu, 08 November 2014

Organisasi, Manajemen

Organisasi
Organisasi menurut Kast & Rosenzweig (dalam munandar, 2001) merupakan suatu sistem yang terbuka, yaitu suatu kesatuan keseluruhan yang terorganisasi, yang terdiri dari dua atau lebih bagian, komponen, yang saling tergantung, yang dipisahkan dari suprasistem sebagai lingkungannya oleh batas-batas yang dapat ditemukenali. Organisasi formal mencakup organisasi yang mencakup keuntungan dan bukan mencari keuntungan. Organisasi yang mencakup keuntungan yaitu yang memproduksi barang atau jasa seperti industri, perdagangan, biro akuntan, biro perjalanan , dll. Sedangkan organisasi yang tujuan utamanya bukan mencari keuntungan seperti lembaga pendidikan, rumah sakit, badan-badan pemerintah, lembaga pemasyarakatan, dll.
Dalam artikel ini organisasinya adalah perusahaan Pertamina yang merupakan badan usaha milik Negara. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang memproduksi barang dan jasa yang tujuan utamanya adalah bukan untuk mencari keuntungan. Suatu organisasi atau perusahaan akan maju dan berkembang jika memiliki sumber daya manusia yang berkompeten dibidangnya dan memiliki sumber daya manusia yang sesuai dengan kriteria dari perusahaan.
Manajemen sumber daya manusia
Manajemen kepegawaian dan sumber daya manusia sangat penting bagi perusahaan dalam mengelola, mengatur, dan memanfaatkan pegawai sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan perusahaan. Sumber daya manusia di perusahaan harus dikelola secara professional agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan pegawai dengan tuntutan dan kemampuan organisasi perusahaan. Keseimbangan merupakan kunci utama agar perusahaan dapat berkembang secara produktif dan wajar.
Di artikel ini membicarakan mengenai calon direkur utama dari Pertamina. Dalam hal mencari nama-nama kandidat untuk direktur utama tidak main-main dan membutuhkan proses waktu yang cukup lama. Dalam memilih direktur utama menurut menteri BUMN Rini Soemarno harus mengikuti beberapa langkah seperti :
1. Pertamina harus melakukan rapat internal oleh dewan komisaris
2. Pengangkatan jabatan dilakukan oleh dewan komisaris selama satu bulan
3. Deputi Kementerian BUMN akan mengirimkan surat untuk dewan komisaris apakah caranya panjang atau ditunjuk langsung
4. Rapat dilakukan sampai betul-betul kementerian BUMN bisa mengusulkan nama-nama yang baru
Kepemimpinan
Dalam organisasi formal dapat dibedakan menjadi dua macam manajer sebagai pemimpin yaitu pertama yang mengepalai keseluruhan organisasi, kedua yangmengepalai satu bagian atau satu unit dari organisasi. Pimpinan yang mengepalai seluruh organisasi adalah manajer puncak seperti direktur utama, direktur, dan general manager, sedangkan pemimpin yang mengepalai satu unit dalam organisasi merupakan manajer madya dan manajer pertama seperti supervisor. Kepribadian dari manajer puncak sangat berdampak pada keseluruhan organisasi perusahaan misalnya mengenai kepribadian dari manajer puncak seperti kepribadian dari direktur utama (dalam artikel ini membicarakan direktur utama), sistem nilai, sikap-sikap, dan perilaku dari seorang direktur utama.
Kepribadian pemimpin sangat menentukan efektifitas dari kepemimpinan. Pemimpin mempunyai kualitas yang lebih baik dari bawahannya. Pemimpin mempunyai ciri-ciri yang tidak dipunyai dari para bawahannya. Menurut Marat (dalam Munandar, 2001) cirri-ciri perilaku pemimpin yang berhasil dari penelitian yang dilakukan pada angkatan darat Amerika Serikat meliputi :
1. Performing professional and technical speciality
2. Knowing subordinates and showing consideration for them
3. Keeping channels of communication open
4. Accepting personal responsibility and setting an example
5. Imitating and directing action
6. Training men as a team
7. Making decisions


sumber : 
Munandar, A. S. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia
Mangkunegara, Anwar Prabu. (2011). Manajemen sumber daya manusia perusahaan.
Bandung: Remaja Rosda Karya

Rabu, 08 Oktober 2014

Ilustrasi cara memanage perusahaan

Contoh Ilustrasi
Memanage Perusahaan Tours and Travel 
Menjadi Terkenal dan Sukses

©      Cara memanage perusahaan Tours and Travel
1.      Visi dan Misi Perusahaan Jelas
Visi dan misi merupakan hal yang paling dasar dan berpengaruh pada perusahaan karena orang-orang melihat suatu perusahaan dari visi dan misinya yang jelas. Adanya visi dan misi dari suatu perusahaan adalah untuk memotivasi perusahaan agar perusahaan tersebut berhasil menjadi sukses dan terkenal di dalam negeri maupun di luar negeri. Misalnya visi dan misi pada perusahaan tours and travel yaitu :
-    Visi           : Perusahaan dikenal oleh masyarakat dunia
-     Misi          : 1. Memudahkan customer dalam memenuhi keinginan untuk berkeliling
di dalam negeri maupun di luar negeri.
2. Memuaskan customer dengan pelayanan yang terbaik dan biaya yang
terjangkau.
2.      Memerlukan SDM  yang berkompeten
Hal yang berpengaruh lainnya dalam suatu perusahaan adalah memiliki sumber daya manusia yang berkompeten. Suatu perusahaan akan berkembang kalau perusahaan tersebut memiliki sumber daya manusia yang berkompeten. Misalnya SDM yang berkompeten dalam perusahaan tours and travel yaitu :
1.    Karyawan yang pandai bicara dihadapan orang banyak dan memiliki akhlak yang baik dan sopan.
2.      Karyawan memiliki pengetahuan yang luas dibidang pariwisata dan kebudayaan.
3.      Mempunyai tenaga administrasi yang handal.
3.      Investasi Memadai
Investasi dalam perusahaan tours and travel adalah hal yang paling penting, semua kegiatan di perusahaan tours and travel ini membutuhkan dana atau investasi yang tidak kecil biayanya. Perusahaan tidak akan berjalan tanpa adanya investasi yang memadai. Misalnya Investasi yang memadai yaitu :
1.      Mempunyai kendaraan yang memadai.
2.      Mempunyai peralatan perkantoran yang memumpuni.
3.      Mempunyai kerjasama dengan perusahaan transportasi, seperti pesawat, bus, kapal, dll.
4.      Relasi yang luas
Relasi yang luas merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam perusahaan tours and travel. Karena kalau kita memiliki jaringan atau relasi yang luas dapat memudahkan kita untuk mencari tempat-tempat wisata yang bagus, indah, dan murah. Selain itu juga, dengan kita memiliki relasi dibidang transportasi memudahkan kita dalam melakukan perjalanan. Selain memiliki relasi dengan perusahaan transportasi, hotel, wisata, mempunyai relasi dengan perusahaan percetakan juga sangat penting. Misalnya mempunyai jaringan yang luas dalam kepariwisataan yaitu :
1.     Dapat bekerjasama dengan tempat-tempat wisata di dalam negeri maupun di luar negeri.
2.     Bekerjasama dengan perusahaan transportasi di dalam negeri maupun di luar negeri.
3.     Bekerjasama dengan departemen migrasi
4.     Dapat bekerjasama dengan berbagai hotel dan penginapan yang ada di dalam negeri dan di luar negeri, dll.
5.     Dapat bekerjasama dengan perusahan percetakan
©      Workplan dari perusahaan tours and travel
1.      Merekrut SDM yang berkompeten
-        SDM harus tahu tempat-tempat wisata yang bagus.
-  SDM harus memiliki wawasan yang luas mengenai tempat-tempat wisata, seperti sejarahnya.
-        SDM harus fasih dalam berbahasa Indonesia dan inggris dengan baik dan benar.
-        SDM harus pandai berkomunikasi atau pandai berbicara dihadapan orang lain.
-        SDM memiliki sopan santun yang baik
2.      Rencana kerjasama dengan perusahaan transportasi
-       Mencari perusahaan transportasi yang bagus dan nyaman, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
-       Mencari perusahaan transportasi yang relative murah dan professional.
3.      Rencana kerjasama dengan berbagai hotel dan penginapan
-          Mencari hotel dan penginapan yang nyaman, bagus, dan murah.
-          Mencari hotel dan penginapan yang letaknya tidak jauh dari kota atau tempat wisata.
-          Mencari hotel dan penginapan yang akses transportasinya mudah
4.      Rencana kerjasama dengan tempat-tempat pariwisata
-         Mencari tempat-tempat wisata yang bagus, indah, dan murah
-     Melakukan pendekatan dengan pengelola objek wisata di dalam negeri maupun di luar negeri.
-         Melakukan negosiasi harga dengan pengelola objek wisata
5.      Promosi perusahaan
-         Membuat iklan melalui media elektronik maupun media cetak
-         Melakukan promo-promo liburan dengan harga yang murah
-         Membuat browsur untuk dibagi-bagikan ke setiap orang
-         Membuat pamphlet dan flayer.

Piramida Memanage Perusahaan












Kamis, 22 Mei 2014

Penyesuaian Diri


Konsep Penyesuaian Diri yang Sehat
Menurut Schneiders (1964) penyesuaian diri merupakan kesatuan fisik dan psikis individu untuk mengatasi segala tuntutan baik yang berasal dari dalam maupun yang berasal dari luar diri individu. Penyesuaian ditentukan oleh bagaimana seseorang itu dapat berinteraksi dengan baik. Penyesuaian diri secara umum dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut, pertama factor internal yang merupakan factor dari dalam diri individu, seperti kondisi fisik, emosi, motivasi. Sedangkan kedua adalah factor eksternal yaitu factor yang berasal dari luar atau lingkungan individu seperti lingkungan rumah, lingkungan tempat kerja, dll. Seseorang bisa dikatakan berhasil atau mampu menyesuaikan diri apabila dia punya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan tuntutan dari lingkungannya serta bisa mengatasi hambatan yang suatu saat akan datang padanya. Menurut Meichati (1983) keberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian diri menimbulkan perasaan puas, superior dan menumbuhkan rasa percaya diri. Individu yang mampu menyesuaikan diri memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Dapat memenuhi segala kebutuhannya tanpa harus dikurangin atau dilebihkan, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
b. Tidak merugikan orang lain.
c. Punya rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Menurut Kartono (1981) salah satu ciri dari kepribadian yang sehat mentalnya adalah adanya kemampuan untuk mengadakan adjustment atau penyesuaian diri secara harmonis baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya. Dengan kata lain individu mampu berhasil menyesuaikan diri kalau dia telah memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, tidak merugikan orang lain dan mampu bertanggung jawab atas perilakunya pada lingkungan sekitar. Contoh penyesuaian diri yang sehat adalah  seorang karyawan baru disuatu perusahaan dia mampu menyesuaikan diri dilingkungan tempat kerjanya, dia mampu berinteraksi dengan baik dengan karyawan-karyawan lainnya dan atasannya, dia dapat menempatkan dirinya dengan tepat dilingkungan kerjanya.

sumber
http://arsip.uii.ac.id/files//2012/08/05.2-bab-2119.pdf


Senin, 21 April 2014

Stress

A. Arti penting dari stress
Biasanya setiap orang pasti pernah merasakan atau mengalami perasaan yang tertekan yang biasa dikenal dengan nama stress. Menurut McGrath dalam Weinberg dan Gould (2003:81),  stress akan muncul pada individu bila ada ketidakseimbangan atau kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhannya baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Sedangkan dalam pengertian secara umum, stress adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri individu. Individu yang mengalami stress akan memunculkan gejala-gejala yang dapat dilihat baik secara fisik maupun secara psikologis. Gejala secara fisik individu yang mengalami stress, antara lain ditandai dengan  gangguan jantung, tekanan darah tinggi, ketegangan pada otot, sakit kepala, telapak tangan dan atau kaki terasa dingin, pernapasan tersengal-sengal, kepala terasa pusing, perut terasa mual-mual, gangguan pada pencernaan, susah tidur, bagi wanita akan mengalami gangguan menstruasi, dan gangguan seksual (impotensi) (Waitz, Stromme, Railo, 1983: 52-71). Sedangkan Gejala secara psikologis individu yang mengalami stress, antara lain ditandai
Dengan perasaan selalu gugup dan cemas, peka dan mudah tersinggung, gelisah, kelelahan yang hebat, enggan melakukan kegiatan, kemampuan kerja dan penampilan menurun, perasaan takut, pemusatan diri yang berlebihan, hilangnya spontanitas, mengasingkan diri dari kelompok, dan pobia (Waitz, Stromme, Railo, 1983:41-50). Stress banyak jenis-jenisnya, yaitu stress baik, distress internal, distress akut, hipostres, dan eustres.
1. Stres baik
Tidak hanya pengalaman negative saja yang bisa memicu stress, pengalaman positif juga dapat. Dalam dosis kecil, tipe ini bisa dikatakan sebenarnya baik untuk imun kita. Selain itu, tipe stres ini juga dapat membuat orang lebih mudah untuk menciptakan suatu tujuan dan menikmati proses mencapainya dengan penuh energi.
2. Distres internal
Distress internal merupakan tipe stress yang buruk. Tipe ini merupakan tipe stres negatif yaitu hasil dari pengalaman buruk, ancaman, atau perubahan situasi yang tidak terduga dan tidak nyaman. Tetapi pada dasarnya, tubuh kita ini menginginkan rasa aman sehingga apabila rasa aman tersebut terusik, tubuh akan mengalami distres.
3. Distres akut
Distres akut ini akan terjadi ketika seseorang itu mengalami distres yang dipicu karena peristiwa buruk yang berlalu dengan cepat. Sementara stres kronik terjadi ketika seseorang harus menahan stres dalam waktu yang lama. Kedua tipe stres tadi akan memicu timbulnya hiperstres.
4. Hipostres
Kekhawatiran dan tantangan dapat juga memicu tipe stress laiinya yaitu hipostres. Hipostres adalah "ketidakadaan" stres, tetapi dapat juga diartikan dengan kebosanan yang ekstrim. Bila orang yang mengalami hipostres mungkin merasa tidak tertantang, tidak memiliki motivasi untuk melakukan apa pun. Hipostres dapat memicu perasaan depresi dan kesia-siaan pada diri.
5. Eustres
Eustres ini membuat tubuh menjadi waspada. Eustres membuat tubuh dan pikiran menjadi siap untuk menghadapi suatu tantangan, bahkan bisa tanpa disadari. Tipe stres ini dapat membantu memberi kekuatan dan menentukan keputusan, contohnya menemukan solusi untuk masalah.
Jefrey S. Nevid, dkk menjelaskan faktor-faktor psikologis yang dapat meminimalisir gangguan stres. Faktor-faktor psikologis tersebut adalah :
a. Cara Coping Stres yaitu Berpura-pura seakan masalah tidak ada atau tidak terjadi merupakan sesuatu bentuk penyangkalan. Penyangkalan merupakan suatu contoh coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) (Lazarus & Folkman,1984).
b. Harapan akan Self-Efficary
c. Ketahanan Psikologis
d. Optimisme
e. Dukungan Sosial
f. Identitas Etnik

B. Kepribadian Sehat Menurut Allport
Gambaran mengenai kodrat manusia yang diutarakan oleh Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Menurut Allport orang-orang yang sehat adalah orang yang tidak terdorong oleh konflik-konflik tak sadar dan tingkah lakunya tidak ditentukan oleh setan yang jauh dari mereka. Allport percaya bahwa kekuatan tak sadar itu, pengaruh yang penting pada tingkah laku pada orang-orang dewasa yang neurotis. Individu yang sehat yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari dengan sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing dan dapat mengontrol. Orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh intense-intensi kea rah masa depan, dan antisipasi-antisipasi masa depan. Pandangan orang sehat adalah ke depan, lebih ke peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali ke peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak.
C. Kepribadian Sehat menurut Carl Rogers
Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis. Pengalaman anak-anak adalah penting, tetapi Rogers focus pada apa yang terjadi dengan kita sekarang, bukan pada apa yang terjadi pada waktu itu. Menurut Rogers, dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri muncul suatu pola yang berkaitan yaitu Individual yang sehat adalah individu yang jarak reality self dan ideal self tidak terlalu jauh. Kepribadian yang sehat juga bisa tergantung pada sejauh mana kebutuhan akan positive regard dipuaskan dengan baik. Motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Terdapat lima tanda-tanda orang yang melakukan aktualisasi diri, yaitu: orang itu terbuka pada pengalaman, kehidupan eksistensial, kepercayaan terhadap organisme orang sendiri, perasaan bebas, dan kreativitas.

sumber :
http://eprints.uny.ac.id/3706/1/06Sukadiyanto.pdf