Tersenyum

Tersenyum

Selasa, 21 April 2015

KONSEP UTAMA CLIENT CENTERED
A.     Pandangan tentang manusia
Rogers menunjukan kepercayaan yang mendalam pada manusia.  Memandang manusia tersosialsasi dan bergerak ke depan, berjuang untuk berfungsi penuh serta memiliki kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam. Manusia dipercayai dan pada dasarnya manusia itu kooperatif dan kosntruktif. Pandangan tentang manusia yang positif memiliki iplikasi yang berarti bagi praktik terapi client centered.
B.     Ciri-ciri pendekatan client centered
Pendekatan ini berfokus pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri dank lien adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya. Pendekatan client centered ini menekankan pada dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien. Berdasarkan konsep bahwa hasrat ingin untuk bergerak menuju kematangan psikologis berakar dari dalam manusia, prinsip terapi client centered diterapkan pada individu yang normal dan individu yang memiliki penyimpangan psikologoisnya. Pendekatan client centered berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan yang ditunjukan oleh terapis atau sebagai suatu cara ada dan sebagai perjalanan bersama di mana baik terapis maupun klien memperlihatkan kemanusiawiannya dan berpartisipasi dalam pengalaman pertumbuhan.
C.     Proses terapeutik
Tujuan dari terapi ini adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Guna mencapai terapi ini, terapis perlu mengusahakan agar klien bisa memahami hal-hal yang ada dibalik topeng yang dikenakannya.  Keterbukaan pada pengalaman perlu memandang kenyataan tanpa mengubah bentuknya supaya sesuai dengan struktur diri yang tersusun lebih dulu. Keterbukaan pada pengalaman menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana kenyataan itu hadir di luar di dirinya. Tujuan berikutnya adalah memabntu klien dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri. Dengan meningkatnya keterbukaan klien pada pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan klien pada dirinya senidri pun mulai timbul. Tempat evaluasi internal berkaitan dengan kepercayaan diri, yaitu lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah keberadaannya. Tonggak terapi client centered adalah anggapannya bahwa klien dalam hubungannya dengan terapi yang menunjang, memiliki kesanggupan untuk menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuan sendiri.
Peran terapis berakar pada cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan klien berbuat sesuatu. Pendekatan ini menunjukan bahwa yang menuntut perubahan kepribadian klien adalah sikap-sikap terapis alih-alih pengetahuan, teori-teori, atau teknik-teknik yang digunakan. Pada dasarnya terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah. Sedangkan fungsi terapis adalah membangun suatu ilkim terepeutik yang menunjang pertumbuhan klien. Jadi, terapis ini membangun hubungan yang membantu di mana klien akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasi are-area hidupnya yang sekarang diingkari. Perubahan terapeutik bergantung pada persepsi klien, baik tentang pengalamannya sendiri dalam terapi maupun tentang sikap-sikap dasar konselor.
D.    Teknik-teknik Terapeutik
Teknik client centered dengan pengungkapan dan pengomunikasian penerimaan, respek, dan pengertian, serta berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal, dengan memikirkan, merasakan , dan mengeksplorasikan. Hart (1990) membagi perkembangan teori Rogers ke dalam tiga periode, yaitu :
1.      Psikoterapi nondirektif : menekankan penciptaan iklim permisif dan noninterventif. Klien akan mencapai pemahaman atas dirinya sendiri dan atas situasi kehidupannya.
2.      Psikoterapi reflektif : merefleksikan perasaan-perasaan klien dan menghindari ancaman dalam hubungan dengan kliennya. Dengan terapi ini klien memapu mengembangkan keselarasan antara konsep diri dan konsep idealnya.
3.      Terapi eksperiensial : difokuskan pada apa yang sedang dialami oleh klien dan pada pengungkapan apa yang sedang dialami oleh terapis.

Terori client centered memiliki penerapan langsung pada proses belajar-mengajar. Perhatian ini pada sifat proses belajar yang dilibatkan di dalam konseling dan telah beralih pada perhatian terhadap apa yang terjadi dalam pendidikan.


Subjek :
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Reflika Aditama 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar